Ketika Anda memiliki impian maka langkah selanjutnya yang harus Anda lakukan adalah memvisualisasikannya. Kekuatan visualisasi saya pahami dan rasakan ketika saya melakukan pertemuan bisnis dengan seorang pengusaha hotel yang sukses mengembangkan jasanya. Hingga saat ini setidaknya ia adalah pemilik 4 hotel berbintang di wilayah Puncak, Jawa Barat, sebuah wilayah destinasi tujuan wisata yang sangat dikenal tidak saja oleh orang-orang Jakarta tetapi juga meluas hingga ke timur tengah.
Pertemuan bisnis saya dengannya berfokus pada upaya mensinergikan potensi yang kami miliki untuk menghasilkan profit yang tinggi ditengah-tengah ketatnya persaingan bisnis perhotelan saat ini. Saat itu saya memberikan saran-saran sebagai konsultan pelatihan yang telah memiliki pengalaman cukup lama di dunia pelatihan experiential learning, saya menyebutnya dengan metode pelatihan yang menyenangkan, interaktif, sarat makna, dan menggugah hati. Singkat cerita dalam pertemuan bisnis yang serius namun santai tersebut ia memberikan kepercayaan kepada saya bersama tim saya untuk mengelola pelatihan pada 4 hotel berbintang yang ia miliki.
Setelah pembicaraan bisnis kami selesai, kami pun berbincang-bincang ringan. Salah satu pembicaraan yang sangat berkesan bagi saya ialah ketika ia menceritakan proses perwujudan salah satu impian yang ia miliki sekitar lebih dari 20 tahun lalu. Impian ini didasarkan pada konsep yang ia miliki tentang bagaimana membangun kesejahteraan masyarakat. Ia berpendapat bahwa masyarakat di sebuah daerah akan sejahtera ketika mereka mampu mengembangkan potensi ekonomi lokal dengan terpadu. Karena tinggal dan lahir di daerah puncak ia pun akhirnya melihat salah satu potensi yang dimiliki oleh daerahnya adalah perhotelan dan pariwisata. Oleh karena itu ia beranggapan masyarakat daerah puncak akan lebih maju jika memiliki skill yang sesuai dengan potensi daerahnya. Berhubung pada saat itu belum ada lembaga pendidikan yang mendukung maka ia memiliki impian untuk membangun lembaga tersebut mulai dari tingkatan SMP-SMA hingga akademi yang berfokus pada jasa perhotelan dan pariwisata.
Ia menceritakan, ketika ia menginginkan hal itu terjadi, ia tidak sekedar memimpikannya, tapi ia memvisualisasikan impian yang ia miliki. Pada saat itu ia menggambarkan impiannya pada selembar kertas gambar dengan menggunakan pensil warna. Ia menggambarkannya dengan sederhana, namun mampu menggambarkan keseriusan yang ia miliki. Pada kertas tersebut ia gambarkan perkiraan luas tanah yang ia perlukan untuk mendirikan sekolah mulai dari tingkat SMP hingga akademi. Ia gambarkan berapa banyak gedung yang ia butuhkan dan seberapa besar gedung sekolah tersebut, lengkap dengan warna cat yang melapisi dindingnya, serta para siswa dan mahasiswa yang akan belajar disana. Ia pun tidak lupa untuk memperkirakan dana sebesar 3 milyar rupiah yang ia perlukan untuk membangun lembaga tersebut.
Gambar yang ia buat menggambarkan keseriusan yang ia miliki. Walaupun ketika ia memperlihatkannya kepada rekan-rekannya yang ia dapatkan hanya kata-kata: gila kamu, mana mungkin; jangan mimpi donk, dapet duit dari mana?; kalau punya impian kira-kira dong,… dan banyak kata-kata negatif lainnya. Kata-kata negatif ini kiranya pantas disebut motivasi yang menghancurkan.
Gambar tersebut tanpa disadari olehnya menjadi penguat pikiran dan perasaan yang ia miliki terhadap impian yang ia miliki. Orang barat sana menyebutnya sebagai Law of Attraction (Hukum Penarik): secara sederhana hukum ini memberikan rahasia bahwa kita dapat menarik apa pun yang kita inginkan dengan kekuatan pikiran dan perasaan kita. Pada kasus rekan saya ini ia menceritakan betapa hebatnya kekuatan visualisasi dalam membantu memperkuat pikiran dan perasaan yang ia miliki sebagai magnet untuk menarik impiannya untuk membangun lembaga pendidikan tersebut. Ia menceritakan bahwa dalam waktu yang sangat-sangat…sekali lagi sangat singkat semesta pun bekerja dengan sangat cepatnya, tanpa ia perkirakan seminggu setelah ia menggambarkan impiannya tiba-tiba seseorang menelepon dirinya dan mengungkapkan niatnya untuk mewakafkan dana yang ia miliki untuk pembangunan sekolah tersebut sebesar 1 milyar rupiah,,,wehehe. Dan impian ia pun segera menjadi kenyataan. Bahkan saat ini lembaga pendidikan yang ia bangun telah memiliki aset sebesar 5 milyar rupiah, lebih besar, lebih dari apa yang ia impikan.
Mendengarkan kisah nyata pengusaha tersebut maka yang harus segera Anda lakukan adalah:
- Milikilah impian dan pastikan impian Anda itu besar dan bernilai.
- Yakinlah terhadap apa yang Anda impikan.
- Segera visualisasikan impian yang Anda harapkan terjadi dalam hidup Anda. Gambarkan impian yang Anda miliki, sesederhana apa pun itu gambar yang Anda buat.
- Sampaikan, ceritakan impian Anda kepada orang lain. Ketika impian tersebut sangat bernilai (kebajikan, kebermanfaatan) jangan ragu-ragu untuk menceritakan kepada setiap orang yang Anda temui, sebagaimana contoh pada kisah ini, orang yang mendengarkan impian Anda bisa saja menjadi perantara/jalan bagi orang lain yang akan membantu Anda untuk mewujudkan impian besar Anda.
- Jangan dengarkan motivasi yang menghancurkan dari orang lain.
My Life, My Inspiration
ReadMore...
Gambarkan Impian Anda
Kegagalan yang Mengsukseskan
Kegagalan bagi sebagian menjadi sebuah momok. Moment yang sedapat mungkin dihindari. Karena sifatnya yang tidak menyenangkan. Karena apa yang diinginkan, apa yang direncanakan, dan apa yang dilakukan tidak mendatangkan hasil sebagaimana yang kita harapkan. Ini berlaku bagi ORDINARY PEOPLE, pribadi kebanyakan, pribadi biasa-biasa saja. Mengapa? Karena mereka tidak menyadari sesuatu yang berada dibalik kegagalan yang mereka alami.
Anda tentu tidak ingin menjadi pribadi yang biasa saja bukan!? Maka dari itu Anda perlu menyadari apa yang ada di balik setiap kegagalan. Apa itu? Jawabnya KESUKSESAN. Ya! kesuksesan. Untuk menjelaskan hal ini saya akan menggambarkan kegagalan dengan sebuah PER.
Sebuah PER atau yang dalam bahasa Inggrisnya disebut Shock Absorber biasa dipasang pada kendaraan bermotor untuk meredam guncangan disaat melaju di jalan yang tidak rata atau bahkan berlubang. Dengan adanya PER maka tingkat ketidaknyamanan pengendara akibat guncangan menjadi lebih kecil dibandingkan jika tidak menggunakan PER. PER bisa mengurangi tingkat ketidaknyamanan akibat guncangan karena mekanisme kerja yang ia miliki: ketika di TEKAN ia akan MELEJIT (mendesak melawan arah tekanan) ke atas. Inilah yang terjadi pada diri kita ketika menghadapi kegagalan.
Kegagalan biasanya membuat diri kita merasa terTEKAN. Hal ini ditandai dengan perasaan yang menyesakkan dada dan memusingkan kepala. Jika Anda pribadi yang biasa maka Anda akan berhenti sampai disini, menganggap kegagalan sebagai ending dari segalanya, yang Anda dapatkan hanyalah perasaan tertekan. Lain halnya jika Anda seorang pribadi yang luar biasa, Anda akan menjadikan hal demikian layaknya seorang yang sedang minum jamu, pahit rasanya namun besar khasiatnya. Mengapa? Karena Anda mengetahui apa yang akan terjadi setelah TEKANAN yang Anda alami, yaitu Anda akan MELEJIT tinggi ke atas, menuju posisi yang lebih tinggi lagi, impian yang Anda impikan, KESUKSESAN yang ingin Anda raih.
Melalui TEKANAN kegagalan yang Anda hadapi anda menjadi MELEJIT tinggi ke atas karena Anda mengetahui sebab-musabab yang menjadikan diri Anda gagal sehingga Anda akan melakukannya dengan lebih baik lagi dikemudian hari.
Satu hal yang tidak boleh terlupa adalah semakin besar TEKANAN yang diterima PER maka ia akan MELEJIT dan melompat semakin tinggi. Maka dari itu, semakin besar TEKANAN yang Anda hadapi maka semakin tinggi pencapaian yang akan Anda raih. Cukuplah kita berkaca dari besarnya TEKANAN kegagalan yang dialami Abraham Lincoln hingga akhirnya ia meraih pencapaian tertingginya sebagai salah satu presiden negara terbesar di dunia.
My Life, My Inspiration
ReadMore...
Do'a dan Usaha
ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu.
Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, “Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan….., please….. Tolong dengarkan doa hambamu ini”. Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya.
Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan.
Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, “Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?”. maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat.
Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.
Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan
ReadMore...
Hidup Yang Lebih Bermakna
Kisah Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu,sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman-teman dan sahabat-sahabat, dan lingkungan sekitarnya.
Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki-laki dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki-laki. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki-laki nya. Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi.
Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tersebut), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki-lakinya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencana-Nya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.
Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain? Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne.
Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencana-Nya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne.
Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata-kata di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka. Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam. Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ Anne. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tersebut bahwa donor organ Anne tersebut berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian Anne. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya.
Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini : SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak-anak kita melakukan hal-hal terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".
ReadMore...


